Rabu, 30 November 2011

ANGKATAN PUJANGGA BARU

PERIODE TAHUN ’30 ANGKATAN PUJANGGA BARU
I.LATAR BELAKANG
      Nama Pujangga Baru mempunyai dua pengertian,yang satu dan yang lain erat hubungannya.dua pengertian itu adalah:
1.Pujangga Baru sebagai ama majalah dan
2.sebagai nama angkatan dalam Sastra Indonesia.
Pujangga Baru sebagai nama majalah mengalami dua periode penerbitan,yaitu:
1.Pujangga Baru sebelum perang (Juli 1933-Maret 1942) dan
2.Pujangga Baru sesudah perang (Maret 1948-Maret 1953).
      Majalah Pujangga Baru terbitan pertam (Juli 1933) dipimpin oleh Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana.Pada terbitan nomor-nomor berikutnya Sutan Takdir Alisjahbana selalu duduk dalam pimpinan,sedangkan beberrapa pengarang yang pernah duduk sebagai sekretaris redaksinya yang penting ialah Armijn Pane,W.J.S Purwadarminta,dan H.B. Jassin.
      Majalah Pujangga Baru,terutama periode sebelum perang adalah pembawa suara dan semangat dari Angkatan Pujangga Baru.Cita-cita,konsepsi,dan pikiran-pikiran yang berkembang pada angkatan itu sebagian besar tercermin pada majalah Pujangga Baru.Untuk mendapatkan gambaran perkembangan majalah itu dan persoalan pokok yang menjadi perhatian angkatan Pujangga Baru dapat dilihat dari subjudul majalah tersebut.
Tahun pertama      :Majalah kesusastraan dan bahasa sastra kebudayaan umum.
Tahun kedua         :Majalah bulanan kesusastraaan dan bahasa serta seni dan kebudayaan.
Tahun ketiga         :Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni kebudayaan ,dan persoalan umum.
Dari perkembangan perubahan subjudul itu jelas bahwa sifat dan perhatian majalah itu sebagai pembawa suara Angkatan Pujangga Baru makin luas dan makin tegas. Subjudul pada majalah periode sesudah perang cukup singkat, yaitu majalah kebudayaan; karena memang majalah itu tidak lagi berperan sebagai pembawa suatu angkatan.


II.KARAKTERISTIK  ANGKATAN  PUJANGGA  BARU
1.Tema pokok cerita pada umumnya bukan lagi berkisar pada masalah kawin paksa atau masalah adat yang hidup di daerah-daerah,melainkan masalah kehidupan kota atau kehidupan masyarakat modern,misalnya masalah perubahan (Manusia Baru – Sanusi Pane); masalah wanita (Layar terkembang – Sutan T.Alisjahbana) masalah kedudukan suami istri dalam hidup berumah tangga (Belenggu – Armijn Pane); dan sebagainya.
2.Sudah jelas mengandung napas kebangsaan atau unsure nasionalitas,baik karangan yang berbentuk prosa maupun yang berbentuk puisi.
3.Memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk pengucapan sesuai dengan pribadinya. Angkatan Pujangga Baru melepaskan diri dari ikatan bentuk-bentuk tradisi lama dan juga merasa tidak terikat oleh syarat-syarat yang ditentukan oleh pihak penguasa.
4.Bahasa sastra Pujangga Baru sudah menggunakan bahasa Indonesia.
5.Baik prosa maupun puisinya sebagian besar mengandung suasana romantic,bahkan sering dikatakan romantic idealistic.
6.Mulai dipengaruhi sastra lain,terutama dari angkatan 80 di negeri Belanda.
III.PARA  PENGARANG  dan  KARYANYA
1.Sutan Takdir Alisjahbana
Lahir  di Natal (Tapanuli) tanggal 11 Februari 1908. Setelah menamatkan HIS di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung. Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah Hakim Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada dirinya. Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:
a.       Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
b.      Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
c.       Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
d.      Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
e.       Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
f.       Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
g.      Puisi Lama (1942)
h.      Puisi Baru (1946)
i.    Nelayan Lautan Utara (terjemahan dari Pecheurs d’Inslande)
j.    Nyanyi Hidup (terjemahan dari The Song Of  Life)

2. Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28 Februari 1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair” Pujangga Baru. Karya-karyanya antara lain:
a.       Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)
b.      Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)
c.       Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)
d.      Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

3. Sanusi Pane
Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14 November 1905. Ia mengunjungi SR di Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India. Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta. Karya-karyanya antara lain:
a.       Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)
b.      Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
c.       Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
d.      Kertajaya (sandiwara, 1932)
e.       Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
f.       Manusia Baru (Sandiwara, 1940)

4. Muhamad Yamin, SH.
Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus 1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi.
Karya-karyanya antara lain:
a.       Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
b.      Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)
c.       Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)
d.      Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath Tagore)
e.       Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
f.       Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
g.      Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
h.      Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
i.        6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
j.        Tan Malaka (19’45)
k.      Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)


5. J.E. Tatengkeng
Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).

6. Hamka
Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin membersihkan agama Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang produktif.
Karyanya antara lain:
a.       Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
b.      Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
c.       Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
d.      Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
e.       Ayahku (biografi)
f.       Karena Fitnah (roman, 1938)
g.      Merantau ke Deli (kisah;1939)
h.      Tuan Direktur (1939)
i.        Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)
j.        Keadilan Illhi
k.       Lembaga Budi
l.        Lembaga Hidup
m.    Revolusi Agama






7. Armijn Pane
Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Lahir di Muarasipongi, Tapanuli Selatan, 18 Agustus 1908. Ia berpendidikan HIS, ELS, Stofia Jakarta pada tahun 1923, dan pindah ke Nias, Surabaya, dan menamatkan di Solo. Kemudian menjadi guru bahasa dan sejarah di Kediri dan Jakarta serta pada tahun 1936 bekerja di Balai Pustaka. Pada masa pendudukan Jepang menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, serta memimpin majalah Kebudayaan Timur.
Karyanya antara lain:
a.       Belenggu (roman jiwa, 1940)
b.      Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953)
c.       Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)
d.      Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939)
e.       Ratna (sandiwara, 1943)
f.       Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
g.      Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat R.A Kartini, 1938)
8.Rustam Effendi
Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta pernah
menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai Komunis. Dalam karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya, juga sering mencari istilah-istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta. Karyanya antara lain:
a.       Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922)
b.      Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)
9. Hasjmy
A. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah Pendidkan Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeun.
Karya-karyanya antara lain:
a.       Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936)
b.      Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)





10. Imam Supardi
Karya-karyanya antara lain:
a.       Kintamani (roman)
b.      Wishnu Wardhana (drama, 1937)
11.M.R. Dajoh
Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909. Ia
berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus di Malang. Pada masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di kantor Pusat Kebudayaan. Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam karya Prosanya sering menggambarkan pahlawanpahlawan
yang berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan masyarakat.
Karyanya antara lain:
a.       Pahlawan Minahasa (roman; 1935)
b.      Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman, 1931)
c.       Syair Untuk Aih (sajaka, 1935)
12. Ipih
Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di Talo,
Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS Bengkulu, Mulo Jakarta, Bandung serta Mulo Taman Siswa Bandung. Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir. Soekarno di Endeh. Setelah menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah memimpin harian Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya antara lain:
a.       Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941)
b.      Sajak-sajak dalam majalah
Sastrawan dan penyair lainnya dari angkatan Pujangga Baru:
13. Mozasa, singkatan dari Mohamad Zain Saidi
14. Yogi, nama samaran A. Rivai, kumpulan sajaknya Puspa Aneka
15. A.M. DG. Myala, nama sebenarnya A.M Tahir
16. Intojo alias Rhamedin Or Mandank
IV.ANALISIS  KARAKTERISTIK  KARYA  SASTRA

A.          Novel  Belenggu  karya Armijn Pane

            1.Sudah menggunakan bahasa Indonesia (Belenggu-Armijn Pane)
Bukti:
Ingatanya melayang lagi ke rumah yang baru dikunjunginya. Perempuan tambun,tegap sikapnya,di kepalanya seolah-olah kembang melati putih,karena rambutnya yang sudah beruban itu. Dia ramah tamah. Sudah dua kali dokter Sukartono ke sana akan melihat cucunya yang sedang sakit. Kedua-dua kalinya ia disambut orang tua itu dengan ramahnya.
Tenang dan damai rasa hati dokter Sukartono disambut oleh orang tua itu. Sehabis memeriksa orang sakit.dokter Sukartono biasa duduk sebentar bercakap-cakap.tetapi di rumah orang tua itu dia duduk sebentar,bukan saja karena hendak menyenangkan hati keluarga serumah,melainkan karena senang duduk berdekatan dengan orang tua itu,mendengar cakapnya.(hal.16)
            2. Mengandung unsur romantisme (akibat pengaruh angkatan 80 an)
Bukti:
“Kartono terlalu kasih akan daku,dia tiada dapat marah,” katanya menembakkan panahnya. Sehabis mengucapkan kalimat itu ia menyesal,terlintas sekejap daam hatinya, dijelingnya muka Aminah,hendak tahu adakah dia mengerti. Senang juga hatinya melihat Aminah kena panah sindirannya, yang sambil memanah hatinya sendiri, tetapi tiada diketahui oleh Aminah,tiada maklum panah itu bertimbal balik.(hal.52)
            3.Mengandung unsur nasionalisme
Bukti :
Orang yang tajam tiliknya, kalau berkenalan dengan Mangunsucipto, tentulah merasa, bagi Mangunsucipto berhenti,sejarah seolah-olah berhenti,sedang sejarah dan zaman terus berjalan,tapi dia tiada sadar akan hal itu. Mangunsucipto turunan bangsawan, mendapat pelajaran di sekolah H.B.S sampai tamat pada waktu itu belum banyak anak Indonesia keluaran H.B.S. Di masa mudanya Mangunsucipto menjadi anggota Budi Utomo yang terkemuka juga. Dalam tahun 1917 Budi Utomo menetapkan program politik lalu turut dengan pemilihan volksraad. Didalam zaman itu semangat rusuh, lambat laun kedalam Budi Utomo masuk semangat kiri. Lain dari pada itu macam anggota berubah. Dulu anggota Budi Utomo kaum bangsawan belaka, kaum ning ningrat, tapi sejak tahun 1919 anggotanya banyak dari lapisan bawah. Hal yang demikian menyolok mata kaum intelek dan kaum ningrat. Lagi pula mereka suka, kalau tujuan perhimpunan itu tetap kerjawaan, demikian juga dalam pengajaran. (hal.123)
             4.Temanya pokok cerita pada umumnya bukan lagi berkisar pada masalah kawin paksa/adat yang hidup di daerah,melainkan masalah kehidupan kota atau masyarakat modern.

Tema Novel Belenggu : mengangkat tema yang pada saat itu terbilang tabu, yakni masalah perselingkuhan dalam keluarga.
Bukti :
Pada ketika yang demikian,tangan kartono mengapus-apus kepala Yah,tahulah kartono,dia tiada akan meninggalkan Yah,tiada akan sampai hatinya meninggalkan dia sebatang kara,di lautan kehidupan yang banyak bencana ini,membiarkan dia lagi mengalami yang sudah di alaminya yang rupanya sangat membekas dalam hatinya.


Analisis intrinsik Novel  Belenggu 
Tokoh dan penokohan:
1.Dokter Sukartono (Tono):
seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya dan memiliki kepedulian kemanusiaan yang cukup tinggi,tetapi dia tega menelantarkan istrinya.

Bukti :

“Patient patient selamanya patient,istrinya terlantar,tidak malu engkau istrimu sendirian pulang?” (hal : 35).

2.Sumartini (Tini):
 Dia merasa di telantarkan bertubuh cantik dan pandai memakai sembarang pakaian.

Bukti :

Terbit nafsunya menghampiri istrinya,hendak di ciumnya seperti dahulu,tapi tampak olehnya Tini diam saja,tiada tanda mengajak sedikit jua,dia tiada perduli.Di amatinya sebentar badan yang terlentang itu molek,karena suka sport dahulu.Sambil menuju ke kursinya dia berpikir : Badannya masih cantik. Memang Tini cantik,pandai memakai sembarang pakaian.(hal : 57).



3.Nyonya Eni, alias Siti Rohayah (Yah), alias Siti Hayati.
     Teman  Tono yang diam=diam mencintinya.

Bukti  :

Yah tersenyum : “Dalam mimpiku,dalam anganku,sudah ku gambarkan pertemuan yang begini.Percayalah,Tono ku cinta”.
(hal ; 38)





































LAMPIRAN I

SINOPSIS NOVEL BELENGGU KARYA ARMIJN PANE

Dokter Sukartono dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar, serta lincah. Perempuan itu bernama Sumartini atau panggilannya Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono atau Tono tidak mencintai Sumartini. Demikian pula sebaliknya, Tini juga tidak mencintai Dokter Sukartono.
Mereka berdua menikah dengan alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantikan, kecerdasan, serta mendampinginya, sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi, keduanya tidak saling mencintai.
Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar.
Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian dirumah. Ida betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini.
Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter yang sangat dermawan.
Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin memicu percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono sangat egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut, maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari mereka bertengkat. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut. Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih bersekolah di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya.
Pada saat itu Yah sudah menjadi janda. Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup dengan suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit.
Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya. Dia sangat mahr dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta. Pada awalanya Dokter Sukartono tidak tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua.
Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya.
Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya.
Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai.
Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.
Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.
















ANALISIS PUISI KERANA KASIHMU dan TETAPI AKU KARYA AMIR HAMZAH

1.Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi   
Bukti:

KERANA KASIHMU 

               Kerana kasihmu
               Engkau tentukan
               sehari lima kali kita bertemu
               

               Aku inginkan rupamu
               kulebihi sekali
               sebelum cuaca menali sutera


2.Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima

Bukti :

    Kerana kasihmu
               Engkau tentukan
               sehari lima kali kita bertemu
               

               Aku inginkan rupamu
               kulebihi sekali
               sebelum cuaca menali sutera
               

               Berulang-ulang kuintai-intai
               terus menerus kurasa-rasakan
               sampai sekarang tiada tercapai
               hasrat sukma idaman badan

               Pujiku dikau laguan kawi
               datang turun dari datukku
               di hujung lidah engkau letakkan
               piatu teruna di tengah gembala
                                
                                
               Sunyi sepi pitunang poyang
               tidak merentak dendang dambaku
               layang lagu tiada melangsing
               haram gemercing genta rebana

              

          3. Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama,    

TETEPI AKU (Amir Hamzah)


               Tersapu sutera pigura
               dengan nilam hitam kelam
               berpadaman lentera alit
               beratus ribu di atas langit

               Seketika sekejap mata
               segala ada menekan dada
               nafas nipis berlindung guring
               mati suara dunia cahaya

               Gugur badanku lemah
               mati api di dalam hati
               terhenti dawai pesawat diriku
               Tersungkum sujud mencium tanah


4.Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah

Bukti:
(KERANA KASIHMU)
    Pujiku dikau laguan kawi
               datang turun dari datukku
               di hujung lidah engkau letakkan
               piatu teruna di tengah gembala
                                
                                
               Sunyi sepi pitunang poyang
               tidak merentak dendang dambaku
               layang lagu tiada melangsing
               haram gemercing genta rebana

               Hatiku, hatiku
               hatiku sayang tiada bahagia
               hatiku kecil berduka raya
               hilang ia yang dilihatnya.


LAMPIRAN 2

 PUISI KARYA AMIR HAMZAH

KERANA KASIHMU 

               Kerana kasihmu
               Engkau tentukan
               sehari lima kali kita bertemu
               

               Aku inginkan rupamu
               kulebihi sekali
               sebelum cuaca menali sutera
               

               Berulang-ulang kuintai-intai
               terus menerus kurasa-rasakan
               sampai sekarang tiada tercapai
               hasrat sukma idaman badan

               Pujiku dikau laguan kawi
               datang turun dari datukku
               di hujung lidah engkau letakkan
               piatu teruna di tengah gembala
                                
                                
               Sunyi sepi pitunang poyang
               tidak merentak dendang dambaku
               layang lagu tiada melangsing
               haram gemercing genta rebana

               Hatiku, hatiku
               hatiku sayang tiada bahagia
               hatiku kecil berduka raya
               hilang ia yang dilihatnya.

               
               Amir Hamzah                





TETEPI AKU 


               Tersapu sutera pigura
               dengan nilam hitam kelam
               berpadaman lentera alit
               beratus ribu di atas langit

               Seketika sekejap mata
               segala ada menekan dada
               nafas nipis berlindung guring
               mati suara dunia cahaya

               Gugur badanku lemah
               mati api di dalam hati
               terhenti dawai pesawat diriku
               Tersungkum sujud mencium tanah

               Cahaya suci riwarna pelangi
               harum sekuntum bunga rahsia
               menyinggung daku terhantar sunyi
               seperti hauri dengan kapaknya
                                
                                
               Rupanya ia mutiara jiwaku
               yang kuselami di lautan rasa
               Gewang canggainya menyentuh rindu
               tetapi aku tiada merasa...

Amir hamzah















LAMPIRAN 3
 DRAMA ANGKATAN 30 an

Damarwulan

Sandhyakala ning Majapahit oleh Sanoesi Pane
Sandhyakala ning Majapahit merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan cerita karya sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) . Pada bagian awal, yaitu bagian ‘Kata Bermula’ diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Damar Wulan, Pararaton, dan Nagarakrtagama. diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya, tahun 1971.
Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian (babak).
Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang dipersembahkan itu berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal (sumber) cerita, siapa tokoh Damar Wulan itu, dan harapan pujangga kepada generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang lebih baik.
Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.
Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” . Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya.
Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan oleh ‘bobrok’nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara.
Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit yang ‘nyaris’ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke Wirabumi.
Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam.

















LAMPIRAN 4
 Sinopsis Cerpen Mencari Pencuri Anak Perawan karya soeman Hs
Ini bukan judul buku sastra karya Suman Hs yang diterbitkan Balai Pustaka (1932), tapi kelakuan Jonsir, 60, warga Medan. Selama 10 tahun dia melarikan gadis Yusnita, 25. Keluarga si gadis setengah mati mencarinya bertahun-tahun, baru kemarin dulu Jonsir ditangkap sedang jualan obat di Polonia.
Mencintai makhluk lawan jenis, memang sudah menjadi hak semua anak bangsa. Tapi meski hak, harusnya yang masuklah di otak. Masak lelaki usia 50 tahun macam Jonsir, naksir gadis ABG usia 15 tahun. Ini sama saja kan mengawini gadis sepantar anaknya. Apa tega juga menyantapnya? Tapi begitulah jikalau kakek sedang kebelet kawin, gadis ingusan pun diuber-uber bak jago mengejar babon (induk ayam).
Sepuluh tahun lalu, dalam usia 50 tahun yang demikian enerjik, Jonsir harus menyandang status duda karena ditinggalkan istri. Mati pergi ke alam baka, atau bercerai, tidaklah jelas. Yang pasti, lama tanpa istri menjadikan Jonsir demikian tersiksa sepanjang hari. Bayangkan, biasanya ketika kedinginan di tengah malam, selelau tersedia selimut hidup. Tapi kini, hanya cukup mendekap guling dan bantal yang tiada makna.
Warga Belawan ini mencari solusi dengan mencari istri pengganti. Didekatinya gadis Merlina, putri Maruli, warga Cinta Karya, Polonia. Tapi gadis usia 20-an tahun tersebut menolak. Di samping usia sangat terpaut jauh, duda kebelet kawin ini tak memiliki karier dan harta yang bisa dibanggakan. Karenanya nama Jonsir langsung dicoret dari daftar pencalonan. Kakek kasmaran ini tereleminasi pada kesempatan pertama.
Bahwa hatinya sangat kecewa, itu sudahlah jelas. Tapi Jonsir bukan tipe lelaki gampang menyerah. Burung gagak bintik-bintik bulunya, ditolak kakak tok masih ada adiknya. Begitulah yang terjadi. Merlina menolak aspirasinya, si kakek gantian mendekati Yusnita yang kala itu masih duduk di bangku SMA. Sama seperti sang kakak, sang ABG juga tak sudi bersuamikan kakek-kakek.
Tapi kakek Jonsir tak mau kalah. Dalam sebuah kesempatan, Yusnita berhasil diculiknya dari sekolah dan dilarikannya. Dibawa ke mana tidaklah jelas. Yang pasti, di gadis ABG yang semula sangat antipati pada Jonsir, kini menjadi empati. Dia pada akhirnya berhasil dinikahi, dan menjadi bagian keluarga Jonsir. Tanpa terasa perkawinan paksa itu telah berjalan sepuluh tahun.
Pekerjaan sehari-hari Jonsir menjadi penjual obat di kaki lima. Dianggapnya situasi sudah aman secara mantap terkendali, belakangan dia berani berdagang obat sampai daerah Polonia tempat tinggal keluarga istri colongannya. Ini kan sama saja kutuk marani sunduk kata orang Jawa di Deli. Dan benar juga rupanya, sekali waktu keluarga Maruli melihat lelaki cecunguk itu jualan di Polonia. Segera saja polisi dihubungi dan kakek pencuri anak perawan itupun ditangkap.
Dalam pemeriksaan, sikakek yang sudah berusia 60 tahun itu mengakui segala perbuatannya. Dulu naksir kakaknya, tapi kemudian terpaksa mencuri adiknya. “Tapi mau dibilang apa, Yusnita pun kini sudah dilarikan orang entah ke mana,” kata si kakek. Benar atau bohong-bohongan, kini polisi Belawan masih melacaknya. Karena Yusnita memang tidak lagi di tangan Jonsir, polisi pun dapat tambahan pekerjaan baru untuk melacaknya.
Jonsir juga bisa dituduh menghilangkan barang bukti, loh. (SE/Gunarso TS)








































V.PENUTUP
             Karya sastra tidak dapat pisahkan dari peristiwa lahirnya karya tersebut.Pada tahun ‘30 an asas seni Armijn Pane mengatakan pendapatnya tentang seni,dalam keterangan tersebut penciptaan seni tidak semata mengabdi pada keindahan.Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa Armijn Pane memandang isi lebih penting daripada bentuk.
              Pada tahun ’30-an masih jarang novel yang memberi sudut pandang cerita yang rumit.Contoh novel Hamka yang berjudul “Tenggelamnya kapal Van der Wijck”. Novel ini terbit pada tahun 1938 dan ternyata pada tahun 1969 telah mengalami cetak ulang yang ke 9,namun di tengah bebasnya berkarya pada masa sekarang berbanding terbalik dengan semangat penerus dalam berkarya.

















DAFTAR PUSTAKA
Sarwadi,2004.Sejarah sastra Indonesia Modern.Yogyakarta: Gama Media
Cybersastra.com
Duniasastra.com
Pusatbahasa.depdiknas.go.id
http://daudp65.byethost4.com/ssastra/ssastra4.htm
wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia















LAMPIRAN

SINOPSIS ROMAN “BELENGGU”

Dokter Sukartono dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar, serta lincah. Perempuan itu bernama Sumartini atau panggilannya Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono atau Tono tidak mencintai Sumartini. Demikian pula sebaliknya, Tini juga tidak mencintai Dokter Sukartono.
Mereka berdua menikah dengan alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantian, kecerdasan, serta mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi, keduanya tidak saling mencintai.
Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar.
Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian dirumah. Ida betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini.
Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter yang sangat dermawan.
Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin memicu percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono sangat egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut, maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari mereka bertengkat. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut. Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih bersekolah di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya.
Pada saat itu Yah sudah menjadi janda. Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup dengan suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit.
Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya. Dia sangat mahr dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta. Pada awalanya Dokter Sukartono tidak tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua.
Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya.
Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya.
Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai.
Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.
Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.

 SINOPSIS NOVEL LAYAR TERKEMBANG
 Raden Wiriaatmadja memiliki dua orang anak gadis yang sifatnya sangat berbeda, yaitu Tuti dan Maria. Anak pertamanya, Tuti, adalah seorang gadis yang pembawaannya selalu serius sehingga gadis itu cenderung pendiam. Namun, ia sangat perpendirian teguh dan aktif dalam berbagai organisasi wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria.
Anak keduanya adalah Maria. Ia memiliki sifat yang lincah, sangat periang dan bicaranya ceplas-ceplos. Ia sangat mudah bergaul dan hidupnya selalu penuh dengan keceriaan. Itulah sebabnya, semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya.
Pada suatu sore, kedua kakak beradik ini berjalan-jalan ke sebuah pasar ikan. Ketika mereka sedang melihat ikan-ikan dalam akuarium, mereka berkenalan dengan seorang pemuda tampan yang bernama Yusuf. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran. Pada hari itu juga, Yusuf mengantarkan kedua gadis itu sampai di rumah mereka.
Sejak pertemuan pertamanya, Yusuf selalu membayangkan Maria yang sangat periang, lincah, dan suka berbicara ceplas-ceplos. Ia menaruh hati kepada gadis itu. Wajah Maria selalu terbayang-bayang di matanya. Senyumnya dan tingkahnya yang periang membuat pemuda itu merasa senang berada di sampingnya.
Takdir kembali mempertemukan Yusuf dengan Maria dan kakaknya di depan Hotel Des Indes. Dengan senang hati, Yusuf mengantarkan kedua kakak beradik itu berjalan-jalan. Setelah pertemuan tersebut, Yusuf menjadi lebih sering berkunjung ke rumah mereka. Beberapa waktu kemudian Yusuf dan Maria sepakat menjalin hubungan cinta kasih.
Sementara itu, Tuti melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.
Pada suatu hari keluarga Raden Wiraatmadja dikejutkan oleh hasil diagnosa dokter yang menyatakan bahwa Maria mengidap penyakit TBC. Semakin hari kesehatan gadis itu semakin melemah sekalipun ia telah menjalani perawatan intensif. Hal ini membuat Yusuf merasa sedih. Pemuda itu mendampingi kekasih hatinya dengan setia. Namun, penyakit TBC yang diderita Maria semakin hari semakin parah sehingga tak lama kemudian Maria pun meninggal dunia. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia meminta kekasihnya untuk menerima kakaknya sebagai penggantinya.
Setelah Maria meninggal dunia, Tuti dan Yusuf menjalin hubungan kasih. Mereka sepakat untuk menikah.
LAMPIRAN 2;PUISI 
Amir Hamzah                
SUBUH 

                             
               Kalau subuh kedengaran tabuh
               semua sepi sunyi sekali
               bulan seorang tertawa terang
               bintang mutiara bermain cahaya
           
               Terjaga aku tersentak duduk
               terdengar irama panggilan jaya
               naik gembira meremang roma
               terlihat panji terkibar di muka

               Seketika teralpa;
               masuk bisik hembusan setan
               meredakan darah debur gemuruh
               menjatuhkan kelopak mata terbuka

               Terbaring badanku tiada berkuasa
               tertutup mataku berat semata
               terbuka layar gelanggang angan
               terulik hatiku di dalam kelam

               Tetapi hatiku, hatiku kecil
               tiada terlayang di awang dendang
               menanggis ia bersuara seni
               ibakan panji tiada terdiri.
                




SINOPSIS DRAMA
Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.
Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” . Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya.
Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan oleh ‘bobrok’nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara.
Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit yang ‘nyaris’ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke Wirabumi.
Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam.

Tidak ada komentar: